Minggu, 11 Desember 2011

Resah Terarah


Pergilah
Kemana kau langkah
Hilangkan semua gundah
Saat muncul segala resah
Tuk kembali ukir sebuah kisah indah

Hembusan angin menyapu sampah berserak
Tak terkumpul hanya dengan teriak
Ambillah dengan badan tegak
Bersikap seperti permainan seorang anak

Jangan hanya terpaku dengan anganmu
Tak terasa terenggut nyawamu
Berkurang, hilang, asa dalam benakmu
Benang tipis sesaat putus oleh waktu

Dalam langkah kau temukan salah
Kembalilah.. kembalilah..
pada Dia Yang Membuat engkau dari sari tanah
ingatlah Dia dengan bibir basah
berharap kasih langkah terarah

Musuhmu adalah hatimu
hati yang berbisik belokkan jalanmu
jalan yang kan kau tuju
kebahagiaan abadi nan syahdu

Boyolali, 12 Desember 2011

Selasa, 23 Agustus 2011

Kemuliaanmu Ada Tanpaku

Bulan kemuliaan
bulan saat kitab suci diturunkan
bulan kala siang nafsu dan lapar ditahan
pahala amal kebajikan dilipatgandakan
segala dosa penuh dengan ampunan

Bulan yang selalu dinanti-nanti
bagi hamba yang mengerti

Ramadhan,
bulan mulia bukan harus dimuliakan
sebab setan dibelenggu dalam kasih Tuhan
masih ada jalan kemaksiatan
hanya manusia bersikap menahan
menahan emosi dari pengrusakan
kerusuhan
permusuhan
pen.tu.ngan ! ! !

Entah,
kedangkalan
atau kefahaman
tentang ajaran
atas dasar kemuliaan
dari bulan

Atau bulan telah ternoda
dengan adanya godaan jalan merajalela
atau ulah razia mereka
yang berbaju agama ? ? ?

Bulan tetap mulia
walaupun manusia sedunia
tidak memulyakannya. . .



Ghurfatul Intidzor, 23 Agustus 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Semerbak kemunafikan

Termenung,
menatap angan
keindahan kehidupan
lampau terkenang


bayang-bayang musykil terlukis dalam benak
bimbang, ya dan tidak
ku hanya terpaku kemolekanmu nan semerbak

keanggunanmu entah karna kemunafikan
ataukah memang setiap saat kau lakukan
ku suka,
tapi apa sekarang lupa


Manakah sekarang kau langkah?
Manakah sekarang kau jamah?
Manakah sekarang kau tambah?


apa kau ingkari
apa kau tak peduli
dimanakah kau
kini



Ghurfatul Intidzor, 23 Agustus 2011

Selasa, 07 Juni 2011

Mereka dan Kita


Sengaja perempuan itu,
berbusana minim di kesunyian malam
tuk menanti sebuah kehangatan
hangat yang memanjakan dan bersahabat
bukan sekedar pelampiasan nikmat


Tanya dia tentang diri
dia kan jawab, ini profesi
agamawan bilang, ini melanggar aturan Ilahi
aku acuh tak peduli


Pengumbar birahi,
pramunikmat,
pelacur kelas kakap atau teri
atau apalah kau punya arti
Tuhan Mengerti hamba yang dikasihi


Dibawanya dia di suatu lokasi
atau ada yang sudah punya posisi
hasrat dan kebutuhan tiada henti
tuk iman yang tak sadarkan diri
mati
dan kadang bangun lagi


Usai dia diberi komisi
Tuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Atau hanya tuk lampiaskan ego pribadi


Sadarkah diantara kita ada yang sama
Dengan mereka
Cara kita lacur diri
Terhadap insan yang dicintai
Tanpa komisi
Tanpa ikatan suci
Hanya cinta sejati




Ghurfatunni'mah, 07 Juni 2011